Berita Seputar Brebes

ads

Sunday, 17 January 2016

Peran UKS di Sekolah Ramah Anak SMP Negeri 1 Larangan

banunbrebes.blogspot.com, LARANGAN – Untuk membentuk sumber daya manusia yang baik tentu dibutuhkan kualitas pendidikan yang semakin hari semakin maju. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut SMP Negeri 1 Larangan sebagai Sekolah Ramah Anak melakukan berbagai usaha dan kegiatan, salah satu diantaranya adalah Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Hal ini erat kaitannya dalam pelaksanaan belajar siswa di sekolah.Tanpa kesehatan yang baik siswa tidak akan dapat mengikuti proses belajar di sekolah dengan baik.
H. Fuad Andriyanto, S.Pd selaku kepala SMP Negeri 1 Larangan berharap dikemudian hari kesehatan yang kita lakukan dapat tumbuh jiwa yang sehat serta bermanfaat bagi sumber daya manusia yang berkualitas. “Kegiatan UKS di SMP Negeri 1 Larangan dapat berjalan dengan lancar atas bantuan dari anggota UKS yang membantu secara maksimal,”tambahnya.

Pembina UKS Hadi Nursalim, S.Pd mengatakan bahwa dengan UKS ini diharapkan mampu menanamkan sikap dan prilaku hidup sehat pada dirinya dan mampu menolong orang lain. “Selain itu juga UKS dapat meningkatkan peran serta peserta didik dalam peningkataan kesehatan di Sekolah,”imbuhnya.
Salah satu siswi kelas 9H Sari Indah puspitasari selaku anggota UKS merasa senang dapat membantu siswa yang sakit dengan memberikan obat-obatan yang sesuai dengan yang diderita. “begitu juga saya dapat mendapatkan tambahan wawasan dan pengalaman,”ujarnya.

Usaha Kesehatan Sekolah di SMP Negeri 1 Larangan berdiri pada tahun 1990 dan tahun 2016 ini telah memprogramkan beberapa kegiatan yang bertujuan meningkatkan pelayanan kesehatan kepada siswa yang membutuhkan, setidaknya penanganan pada tingkat pertama (pertolongan pertama), diantaranya mengobati anak sakit, penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, menganjurkan anak yang sakit untuk berobat ke puskesmas atau Rumah Sakit dan penanganan lainnya dengan fasilitas UKS yang memadai. (Hadi NS editor Lukman)

Monday, 28 December 2015

Enaknya Makan Durian Kutaraja Farm di Rumah Durian Desa Pamijen


Celoteh tonjong.com, PAMIJEN – Rumah Durian Kutaraja Farm, itulah sebutan rumah M. Gholab 46. Rumah itu berada di Desa Pamijen, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes. Dari pusat kota, rumah tersebut berjarak sekitar 35 kilometer atau sekitar 60 menit jika ditempuh dengan sepeda motor.
Saban musim durian tiba, rumah A. Gholab dipenuhi durian berbagai jenis. Pembeli bebas memilih durian sesuai selera. Mereka yang mendatangi lokasi itu bisa langsung menikmati durian di rumah. Durian didatangkan dari kebun sendiri seluas 34 Ha yang tersebar di kebun Desa Kutayu, Desa Rajawetan, Desa Tenggeran.
” Untuk jenisnya ada macam-macam. Seperti durian montong lokal, durian mentega, dan jenis lainnya. Rata-rata jenisnya montong dan lokal, sebelum dimakan, cicipi langsung, jika cocok lsngsung di belah terus dinikmati” kata Gholab saat ditemui di rumahnya, Kamis (24/12/2015).
Gholab memulai usaha Rumah Durian pada 2006 silam. Awalnya, ia merintis ini dari usaha Ayahnya Toha yang melihat keberhasilan orang cilacap budidaya duren di Desa Rajawetan. Akhirnya mencari informasi seputar budidaya duren hingga sampai ke WarsoFarm yang dibogor. Usaha itu membuahkan hasil.
Pembeli dari berbagai daerah saban hari ramai-ramai mendatangi rumahnya demi menikmati durian yang ia jual. Tak hanya warga Tonjong, para pembeli juga berasal dari wilayah lain seperti Brebes, Tegal, Cirebon, Purwokerto, Jakarta.
Kini, A. Gholab tak perlu jauh-jauh menjajakan durian miliknya lantaran pembeli berdatangan ke rumahnya.
“Setiap hari bisa menjual hingga 500 durian,” ungkapnya.
Soal harga durian yang dijual, Gholab mengatakan bervariasi antara Rp 35.00-Rp.45.000/buah jika duren lokal super. Sedangkan jika duren montong dijual per kg yakni Rp. 45.000. “Harganya memang lebih miring, Kalau di luar ada selisih harga yang lumayan, dan menikmati duren di rumah durian ada jaminan, jika ga manis atau lezat boleh ditukar, ” ungkapnya.
Salah satu pembeli, Marzuki, mengaku baru kali pertama mendatangi Rumah Durian. “Tahunya di tonjong adanya di desa kalijurang yang di jual di pinggiran jalan. Ini sekaligus jalan-jalan ke Negarayu mampir ke sini,” kata warga Warga temukerep, Larangan Brebes itu.
SUMBER : celotehtonjong.com

SANU ADHISWARA LAGU AZZA RHOMA IRAMA  https://www.youtube.com/watch?v=ZEehI_akEKE

Tim Brebes Mengabdi Adakan Pelatihan PAUD di Desa Larangan


bangunbrebes.blogspot.com, LARANGAN – Sebanyak 56 guru PAUD Se-Kecamatan Larangan mengikuti pelatihan di Aula Balai Desa Larangan, Senin (21/12/2015) kemarin. Acara yang bertema “Menjadi Guru PAUD yang kreatif dan inovatif dengan kurikulum 2013” ini diselenggarakan oleh Tim Brebes Mengabdi (TBM) bekerjasama dengan Himpunan PAUD Indonesia (Himpaudi) Kecamatan Larangan. Hadir dalam acara tersebut Ujang Wahyu, SST selaku Sekretaris Camat (Sekcam) Larangan, Umiri Susanti Ketua Himpaudi Larangan dan Dra. Retnaningdyah Susilawati, MPd selaku narasumber.
Dalam sambutannya, Ujang Wahyu, SST mengharapkan agar guru PAUD mampu memahami materi dan mengimplementasikannya di sekolah masing-masing. “Hal ini dikarenakan Pendidikan anak usia dini juga akan mengacu pada kurikulum 2013,”ungkapnya.
Koordinator TBM Siti Nur Aeni (24) menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk kerjasama TBM dengan Himpaudi Larangan. “Alhamdulillah kegiatan ini bisa terlaksana dan berharap terus berkesinambungan,”imbuhnya.
Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan selama 3 hari dengan mengedepankan teori dan praktek yang dipandu narasumber Dra. Retnaningdyah Susilawati, MPd. Guru teladan tingkat Jawa Barat dan Nasional ini menekankan kepada guru PAUD agar bisa menerapkan pendidikan yang diajarkan ke dalam kehidupan sehari-hari anak. “Teori dan praktek harus sinkron dengan yang biasa anak lakukan di lingkungannya, itulah kurikulum 2013,”tandasnya.
Pada kesempatan yang sama, Umiri Susanti Ketua Himpaudi Larangan saat ditemui tim celotehlarangan.com disela-sela pelatihan sangat merespon positif dengan adanya kegiatan ini. “Pelatihan ini sangat berguna bagi guru PAUD di kecamatan Larangan,”imbuhnya. (Eko Dhardirjo editor LH)